Selasa, 09 Agustus 2011

Angka Kematian Ibu dan Bayi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (> 37 minggu) tanpa disertai penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada servik (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada servik (Kurniawati, dkk, 2009).
Sectio caesaria adalah lahirnya janin, plasenta dan selaput ketuban melalui irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim. Banyak faktor yang menyebabkan diambilnya tindakan sectio caesaria yaitu faktor ibu, factor janin, faktor jalan lahir, berdasarkan partograf, partus kasep dan kegagalan.Angka sectio caesaria terus meningkat dari insidensi 3–4% 15 tahun yang lampau sampai insidensi 10–15% sekarang ini. Angka terakhir mungkin bisa diterima dan benar. Bukan saja pembedahan menjadi lebih aman bagi ibu, tetapi juga jumlah bayi yang cidera akibat partus lama dan pembedahan traumatik vagina menjadi berkurang. Di samping itu, perhatian terhadap kualitas kehidupan dan pengembangan intelektual pada bayi telah memperluas indikasi sectio caesaria.
Di Indonesia angka sectio ceasaria untuk rumah sakit pendidikan atau rujukan sebesar 20% dan rumah sakit swasta 15%. Hal ini tentu disebabkan oleh berbagai hal, baik itu section caesaria atas indikasi medis maupun  ndikasi non medis. Jumlah ibu yang melahirkan dengan tindakan section caesaria adalah sebanyak 388 orang. 28,98% dengan indikasi medis, 40,43% akibat faktor ibu terutama partus dengan komplikasi, dan akibat kegagalan 0,9%. Sebagian besar adalah pada usia diantara 20–35 tahun 81,7%, usia kehamilan 37–42 minggu 95,1%, riwayat kehamilan 2–5 kali 53,61% dan tanpa pernah partus sebelumnya 44,84%. (Mutiara, 2004).
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Berbagai faktor yang terkait dengan resiko terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan cara pencegahannya telah diketahui, namun demikian jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. (Depkes RI, 2001).
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia 2006, AKI Indonesia adalah 307 per 100000 kelahiran hidup pada tahun 2002, sedangkan AKB di Indonesia sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian maternal yang paling umum di Indonesia adalah perdarahan 28%, eklamsi 24%, dan infeksi 11%. Penyebab kematian bayi yaitu BBLR 38,94%, asfiksia lahir 27,97%. Hal ini menunjukan bahwa 66,91% kematian perinatal dipengaruhi oleh kondisi ibu saat melahirkan.
Berdasarkan data dari catatan rekam medik RSUD Dr Moewardi Surakarta pada tahun 2006 – 2007 jumlah pasien dengan persalinan section caesaria sebanyak 502 pasien. Angka tersebut membuktikan bahwa section caesaria merupakan masalah kesehatan dimana besarnya masalah section caesaria dapat dilihat dari tingginya presentase Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Angka mortalitas bayi baik yang dilahirkan secara sectio caesaria maupun melalui per vaginam sebenarnya sudah menurun sebagian besar dari kematian bayi berkaitan dengan prematuritas. Di satu pihak sectio caesaria telah mengurangi jumlah bayi yang cedera akibat prosedur vaginal yang traumatik. Dilain pihak sejumlah bayi yang memiliki defek kongenital yang tidak mungkin layak bertahan hidup dilahirkan dalam keadaan hidup (oxorn. Harry, dkk. 2003).
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan keperawatan pada Ny.S post op sectio caesaria indikasi kala 11 lama di ruang mawar 1 RSUD Dr Moewardi”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud  AKI dan AKB ?
2.      Apa penyebab kematian ibu  dan Bayi ?
3.      Bagaimana upaya untuk mencegak kematian Ibu dan bayi ?
4.      Apakah yang dimaksud dengan Eklamsia dan Pre Eklamsia ? dan
5.      Bagaimanakah partisipasi bidan dalam kematian bayi ?
C.    Tujuan
1.      Menjelaskan tentang Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB);
2.      Menjelaskan penyebab kematian ibu dan bayi;
3.      Mnjelaskan upaya mencegah kematian Ibu dan bati;
4.      Menjealaskan tentang Eklamsi dan Pre Eklamsia; dan
5.      Menjelaskan pastisipasi dalam pencegana peningkatan kematian bayi pada bidan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    AKI dan AKB
1.      Angka Kematian Ibu (AKI)
Kematian pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara berkembang sekitar 25 – 50% kematian terjadi pada wanita usia subur. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Angka kematian ibu merupakan tolok ukur untuk menilai keadaan pelayanan obstetri disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti sistim pelayanan obstetri masih buruk, sehingga memerlukan perbaikan.
Kematian ibu adalah kematian seorang wanita yang terjadi saat hamil, bersalin dan masa nifas (dalam 42 hari) setelah persalinan. Jumlah kematian ibu melahirkan di Indonesia mencapai angka yang spektakuler yaitu 307 per 100.000 kelahiran dari rata – rata kelahiran sekitar 3-4 juta setiap tahun.
Angka yang dihimpun dari Survay Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 menunjukkan sekitar 15.000 ibu meninggal karena melahirkan setiap tahun atau 1.279 setiap bulan atau 172 setiap pekan atau 43 orang setiap hari atau hampir 2 orang ibu meninggal setiap jam.
2.      Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup.
Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan angka kematian balita (Akba) pada kurun waktu yang sama cukup tajam, yaitu AKB dari 51 per 1.000 menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup, dan Akba 82,6 per 1.000 menjadi 46 per 1.000 kelahiran hidup pada kurun waktu yang sama. Angka kematian bayi baru lahir (neonatal) penurunannya lambat, yaitu 28,2 per 1.000 menjadi 20 per 1.000 kelahiran hidup.
Target nasional 2010 Angka Kematian Bayi adalah 40/1.000 sedangkan target nasional 2010 Angka Kematian Balita adalah 58/1.000. Penyebab Kematian Bayi meliputi asfiksi, infeksi, hipotermi, BBLR, trauma persalinan, penyebab lain pemberian makan secara dini, pengetahuan yang kurang tentang perawatan bayi, tradisi (masyarakat tidak percaya pada tenaga kesehatan), serta sistem rujukan yang kurang efektif.
B.     Penyebab Kematian Ibu dan Bayi
Berdasarkan penyebabnya Kematian ibu bisa dibedakan menjadi langsung dan tidak langsung.
1.      Penyebab Langsung
a.       Perdarahan (42%)
b.      Keracunan kehamilan/eklamsi (13%).
c.       Keguguran/abortus (11%)
d.      Infeksi (10%)
e.       Partus lama/persalinan macet (9%)
f.       Penyebab lain (15%)
2.      Penyebab Tidak Langsung
a.       Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah. Masih banyaknya ibu yang beranggapan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan sesuatu yang alami yang berarti tidak memerlukan pemeriksaan dan perawatan, serta tanpa mereka sadari bahwa ibu hamil termasuk kelompok risiko tinggi. Ibu hamil memiliki risiko 50 % dapat melahirkan dengan selamat dan 50 % dapat mengakibatkan kematian.
b.      Sosial ekonomi dan sosial budaya Indonesia yang mengutamakan bapak dibandingkan ibu, sebagai contoh dalam hal makanan, sang bapak didahulukan untuk mendapat makanan yang bergizi sedangkan bagian yang tertinggal diberikan kepada ibu, sehingga angka anemia pada ibu hamil cukup tinggi mencapai 40 %.
c.       “4 terlalu “dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak.
d.      “3 terlambat”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan.
Selain itu 60 – 70% ibu yang melahirkan masih ditolong oleh dukun tradisionil. Tiga terlambat ini juga sangat dipengaruhi oleh dana dari keluarga ibu bersalin, walaupun cepat dirujuk, tetapi oleh karena tidak tersedianya uang maka, niat merujuk dibatalkan sendiri oleh keluarganya. Dana yang diperlukan tidak saja untuk transportasi dan biaya perawatan di puskesmas atau RS, tetapi diperlukan juga untuk keluarga yang mengantar, sehingga jumlah dana yang dibutuhkan cukup besar. Dana sehat yang diperoleh dari masyarakat dan pemerintah masih sangat terbatas (20%), sehingga faktor dana ini masih merupakan kendala yang memerlukan perhatian yang serius.
Pendekatan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kematian ibu yang disebut MPS atau Making Pregnancy Safer.
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi  lahir sampai bayi belum berusia  tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
C.    Upaya Mencegah Meningkatnya Kematian Ibu dan Bayi
Kegiatan yang dilakukan dalam menurunkan AKI yaitu :
Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui :
a.       Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaan tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan dukun bayi, serta berbagai pelatihan bagi petugas.
b.      Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai standar, antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Kualitas) 24 jam.
c.       Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah terjadinya 4 terlalu, pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
d.      Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan jalan menjalin kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI, PPNI), Perinasia, PMI, LSM dan berbagai swasta.
e.       Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara lain dalam bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya, pencegahan terlambat 1 dan 2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi, partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.
f.       Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.
g.      Sosialisasi dan advokasi, melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada kepentingan ibu dan anak.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kematian bayi yaitu :
1.      Peningkatan kegiatan imunisasi pada bayi.
2.      Peningkatan ASI eksklusif, status gizi, deteksi dini dan pemantauan tumbuh kembang.
3.      Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi.
4.      Program Manajemen Tumbuh kembang Balita sakit dan Manajemen Tumbuh kembang Balita Muda.
5.      Pertolongan persalinan dan penatalaksanaan Bayi Baru lahir dengan tepat.
6.      Diharapkan keluarga memiliki pengetahuan, pemahaman, dan perawatan pasca persalinan sesuai standar kesehatan.
7.      rogram Asuh.
8.      Keberadaan Bidan Desa.
9.      Perawatan neonatal dasar meliputi perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi dengan metode kanguru, menyusui dini, usaha bernafas spontan, pencegahan infeksi, penanganan neonatal sakit, audit kematian neonatal.
D.    Eklamsia dan Pre Eklamsia
Media massa saat ini sedang dihebohkan oleh berita seorang ibu yang tiba tiba lumpuh dan kejang kejang setelah menjalani operasi sesar. Berbagai tanggapan muncul, ada yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah malpraktek, ada pula yang menganggap hal tersebut sebagai komplikasi dari penyakit hipertensi pada kehamilan atau eklampsia. Sebelum ikut ikutan beropini, lebih baik kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan preeklampsia dan eklampsia.
Apakah preeklampsia itu?
Preeklampsia atau sering juga disebut toksemia adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Wanita hamil dengan preeklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Preeklampsia umumnya muncul pada pertengahan umur kehamilan, meskipun pada beberapa kasus ada yang ditemukan pada awal masa kehamilan.
Apakah eklampsia itu?
Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami kejang kejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat atau setelah melahirkan.
Apa yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia?
Penyebab pasti dari kelainan ini masih belum diketahui, namun beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklampsia dan eklampsia. Faktor faktor tersebut antara lain, gizi buruk, kegemukan dan gangguan aliran darah ke rahim.
Apa saja faktor resiko terjadinya preeklampsia?
Preeklampsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah :
1.      Riwayat tekanan darah tinggi yang khronis sebelum kehamilan
2.      Riwayat mengalami preeklampsia sebelumnya
3.      Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan
4.      Kegemukan
5.      Mengandung lebih dari satu orang bayi
6.      Riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid arthritis
Apa saja gejala preeklampsia yang patut di waspadai ?
Selain bengkak pada kaki dan tangan, protein pada urine dan tekanan darah tinggi, gejala preeklampsia yang patut diwaspadai adalah :
1.      Berat badan yang meningkat secara drastis akibat dari penimbunan cairan dalam tubuh.
2.      Nyeri perut.
3.      Sakit kepala yang berat.
4.      Perubahan pada refleks.’
5.      Penurunan produksi kencing atau bahkan tidak kencing sama sekali.
6.      Ada darah pada air kencing.
7.      Pusing.
8.      Mual dan muntah yang berlebihan.
Apakah setiap wanita hamil yang kaki tangannya bengkak menderita preeklampsia?
Beberapa wanita hamil yang normal dapat mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Tetapi jika bengkak yang timbul tidak mengecil saat istirahat dan ditambah dengan gejala yang saya sebutkan diatas, maka sebaiknya anda segera ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Bagaimana efek preeklampsia pada bayi ?
Preeklampsia dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan.
Bagaimana mengobati preeklampsia dan eklampsia ?
Pengobatan preeklampsia dan eklampsia adalah kelahiran bayi. Preeklampsia ringan (tekanan darah diatas 140/90 yang terjadi pada umur kehamilan 20 minggu yang mana wanita tersebut belum pernah mengalami hipertensi sebelumnya) dapat dilakukan observasi di rumah atau di rumah sakit terggantung kondisi umum pasien.
Jika umur bayi masih prematur, maka diusahakan keadaan umum pasien dijaga sampai bayi siap dilahirkan. Proses kelahiran sebaiknya dilakukan di rumah sakit dibawah pengawasan ketat dokter spesialis kebidanan. Jika umur bayi sudah cukup, maka sebaiknya segera dilahirkan baik secara induksi (dirangsang) atau operasi.
Untuk preeklampsia berat lebih baik dilakukan perawatan intensif di rumah sakit guna menjaga kondisi ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
E.     Partisipasi Masyarakat Dalam Kematian Bayi
Partisipasi masyarakat dalam mencegah kematian bayi yaitu dengan :
1.      Menyebarluaskan pengetahuan tentang pentingnya 7 hari pertama pasca persalinan bagi kehidupan bayi selanjutnya.
2.      Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan oleh Bidan di Desa.
3.      Mencatat dan melaporkan adanya ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayi meninggal pada bidan di Desa, agar diperoleh masukan untuk merencanakan tindakan/ kunjungan dan memecahkan sekaligus mengantisipasi masalah kematian bayi.
4.      Mendukung dan mempertahankan keberadaan bidan di desa.


BAB III
P E N U T U P

A.    Kesimpulan
1.      Kematian pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara berkembang sekitar 25 – 50% kematian terjadi pada wanita usia subur.
2.      Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup.
3.      Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi  lahir sampai bayi belum berusia  tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
4.      Preeklampsia atau sering juga disebut toksemia adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Eklampsia merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak teratasi dengan baik. Selain mengalami gejala preeklampsia, pada wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami kejang kejang. Eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian baik sebelum, saat atau setelah melahirkan.

B.     Saran
Adapu sebagai saran yaitu dimana dalam mengatasi angka kematian ibu dan bayi bukan hanya masyarakat, tetapi yang lebih utama yaitu Bidan itu sendiri yaitu dengan cara
a.       Menerapkan program ASUH (Awal Sehat Untuk Hidup Sehat) yang memfokuskan kegiatan pada keselamatan dan kesehatan bayi baru lahir (1-7 hari).
b.      Mengintensifkan kegiatan kunjungan rumah 7 hari pertama pasca persalinan berisi pelayanan dan konseling perawatan bayi dan ibu nifas yang bermutu.


DAFTAR PUSTAKA

Behrman. Kliegman. Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics). EGC. Jakarta.
Depkes. (2007). Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidan Poskesdes dan Pengembangan Desa Siaga. Depkes. Jakarta.
Depkes RI. (2007) Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pusat Promosi Kesehatan.
Depkes RI, (2006) Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit, Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
Reeder, Mastroianni, Martin, Fitzpatrik. Maternity Nursing. 13rd edition. Philadelpia : J.B. Lippincott Company, 1976; 23:463-472.
Pritchard JA.MD, MacDonald PC.MD, Gant NF MD. William Obstetrics. Penerjemah: Hariadi R. Prof. Dr, dkk. Surabaya: Airlangga University Press, 1997 ; 27 : 609-646.
Wiknjosastro Hanifa, DSOG., Prof. dr., dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. Ketiga. Cetakan Keempat. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohaijo, 1997; 24 : 281-301.
Effendy Nasrul. (1998). Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar